Jumat, 27 Januari 2012

faktor-faktor yang mempengaruhi belajar


       I.          PENDAHULUAN
Banyak orang yang beranggapan, bahwa yang dimaksud dengan belajar adalah mencari ilmu atau menuntut ilmu. Ada lagi yang secara khusus mengartikan belajar adalah menyerap pengetahuan. Memang kalau kita bertanya kepada seseorang tentang apakah belajar itu, akan memperoleh jawaban yang bermacam-macam. Perbedaan pendapat orang tentang arti belajar itu disebabkan karena adanya kenyataan, bahwa perbuatan belajar itu sendiri bermacam-macam. Banyak  jenis kegiatan yang oleh kebanyakan orang dapat disepakati sebagai perbuatan belajar misalnya menirukan ucapan kalimat, mengumpulkan perbendaharaan kata, mengumpulkan fakta-fakta, menghafalkan lagu, menghitung dan mengerjakan soal-soal matematika, dan sebagainya. Tidak semua kegiatan dapat tergolong sebagai kegiatan belajar misalnya : melamun, marah, menjiplak, dan menikmati hiburan.
Berikut ini akan dijelaskan tentang belajar sekaligus faktor-faktor yang mempengaruhinya.
     II.          PEMBAHASAN
1)     Pengertian Belajar
Terdapat banyak definisi belajar. Berikut ini dikemukakan beberapa definisi yang menurut para ahli.
a.      Menurut James O. Wittaker, belajar dapat didefinisikan sebagai proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman. “Learning may be defined as the process by which behavior originates or is altered through training or experience.” (Wittaker, 1970:15). Dengan demikian, perubahan-perubahan tingkah laku akibat pertumbuhan fisik atau kematangan, kelelahan, penyakit, atau pengaruh obat-obatan adalah tidak termasuk sebagai belajar.
b.     Definisi yang tidak jauh berbeda dengan definisi diatas, dikemukakan oleh Cronbach dalam bukunya yang berjudul “Educational Psychology.” “Learning is shown by change in behavior as a result of expe-rience.” (Cronbach,1954:p.47). Dengan demikian, belajar yang efektif adalah melalui pengalaman. Dalam proses belajar, seseorang berinteraksi langsung dengan objek belajar dengan menggunakan semua alat indranya.[1]
c.      Hilgard dan Bower, dalam bukunya Theories of Learning, mengemukakan bahwa “Belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi itu”.
d.     Gagne, dalam bukunya The Conditions of Learning, menyatakan bahwa “Belajar terjadi apabila suatu situasi stimulus bersama dengan isi ingatan mempengaruhi siswa sedemikian rupa sehingga perbuatannya berubah dari waktu sebelum ia mengalami situasi itu ke waktu sesudah ia mengalami situasi tadi”.
e.      Morgan, dalam bukunya Introduction to Psychology, menyatakan bahwa “belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman”.
f.      Witherington, dalam bukunya Educational Psychology, menyatakan bahwa “Belajar adalah suatu perubahan di dalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru daripada reaksi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepandaian, atau suatu pengertiian”.[2]
g.     Good dan Brophy dalam bukunya Educational Psychology a Approach mengemukakan arti belajar yaitu Learning is the development of new assosiations as a result of experiience. Selanjutnya ia menjelaskan bahwa belajar merupakan suatu proses yang tidak dapat dilihat dengan nyata, proses itu terjadi didalam diri seseorang yang sedang mengalami belajar.[3]
Belajar menurut anggapan sementara orang, adalah proses yang terjadi dalam otak manusia. Saraf dan sel-sel otak yang bekerja mengumpulkan semua yang dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, dan lain-lain, lantas disusun oleh otak sebagai hasil belajar. Itulah sebabnya, orang tidak bisa belajar jika fungsi otaknya terganggu.[4]
Secara singkat dan secara umum, belajar dapat diartikan sebagai “perubahan perilaku yang relatif tetap sebagai hasil adanya pengalaman”. Disini tidak termasuk perubahan perilaku yang diakibatkan oleh kerusakan atau cacat fisik, penyakit, obat-obatan, atau perubahan karena proses pematangan.[5]
Dari definisi-definisi yang dikemukakan diatas, dapat disimpulkan adanya beberapa elemen penting yang mencirikan pengertian tentang belajar, yaitu :
1.     Situasi belajar mesti bertujuan, dan tujuan-tujuan tersebut diterima, baik oleh individu maupun masyarakat.
2.     Belajar adalah suatu perubahan dalam tingkah laku, dimana perubahan itu dapat mengalahkan kepada tingkah laku yang lebih baik, tetapi jiga ada kemungkinan yang mengarah kepada tingkah laku yang lebih buruk.
3.     Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan atau pengalaman.
4.     Untuk dapat disebut belajar, maka perubahan itu relatif mantap, harus merupakan akhir dari suatu periode waktu yang cukup panjang.
5.     Tingkah laku yang mengalami perubahan karena belajar menyangkut berbagai aspek kepribadian, baik fisik maupun psikis.[6]
2)     Beberapa Aktifitas yang Termasuk Belajar
Telah dikemukakan diatas, bahwa belajar tergantung pada kebutuhan dan motivasii. Sebelum dikemukakan jenis aktivitas belajar, baiknya dikemukakan dulu tentang set belajar.
a.      Gambaran tentang set belajar
Suatu set adalah arah terhadap pekerjaan didalam suatu set terdapat berbagai alternatif objek atau materi. Manfaat dari set belajar adalah membuat sipelajar mempunyai respon terhadap kecepatan berbagai tindakan untuk mencapai tujuan.
b.     Beberapa aktivitas dalam belajar
Mendengar, memandang, 3M (meraba, mencium, mengecap / merasakan), menulis atau mencatat, membaca, mengingat, berfikir.[7]
3)     Jenis-jenis belajar
a.      Berdasarkan tujuan dan hasil yang diperoleh  dari kegiatan belajar
Belajar Abstrak, Belajar Ketrampilan, Belajar Sosial, Belajar Pemecahan Masalah, Belajar Rasional, Belajar Kebiasaan, Belajar Apresiasi, dan belajar pengetahuan.
b.     Berdasarkan cara atau proses yang ditempuh dalam belajar
Belajar berdasarkan pengamatan, Belajar Berdasarkan Gerak, Belajar Berdasarkan Menghafal, Belajar Berdasarkan Pemecahan Masalah, Belajar Berdasarkan Emosi.[8]
4)     Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hal Belajarnya
Secara garis besar, faktor-faktor yang mempengaruhi belajarr anak atau individu dapat dibagi dalm dua bagian :
1.     Faktor Endogen
Faktor Endogen atau disebut juga faktor internal, yakni semua faktor yang berada dalam diri individu. Meliputi dua faktor, yaitu faktor fisik dan faktor psikis.
a.      Faktor Fisik
Faktor fisik ini bisa kita kelompokkan lagi menjadi beberapa kelompok, antara lain faktor kesehatan. Umpamanya anak yang kurang sehat atau kurang gizi, daya tangkap dan kemampuan belajarnya akan kurang dibandingkan dengan anak yang sehat.
Selain faktor kesehatan, ada faktor lain yang penting, yaitu cacat-cacat yang dibawa sejak anak berada dalam kandungan.keadaan cacat ini juga bisa menghambat keberhasilan seseorang.
b.     Faktor Psikis
Banyak faktor yang termasuk aspek psikis yang bisa mempengaruhi kuantitas dan kualitas perolehan pembelajaran. Diantara begitu banyak faktor psikis, yang paling banyak atau paling sering disoroti pada saat ini adalah faktor-faktor berikut.
(1)  Faktor intelegensi atau kemampuan
Pada dasarnya, manusia itu berbeda satu sama lain. Salah satu perbedaan itu adalah dalam hal kemampuan atau intelegensi. Kenyataan menunjukkan, ada orang yang dikaruniai kemampuan tinggi, sehingga mudah mempelajari sesuatu. Dan, sebaliknya, ada orang yang kemampuannya kurang, sehingga mengalami kesulitan untuk mempelajari sesuatu disebabkan, antara lain, oleh perbedaan pada taraf kemampuannya. Kemampuan ini penting untuk mempelajari sesuatu.[9]
(2)  Faktor perhatian dan minat
Bagi seorang anak, mempelajari suatu hal yang menarik perhatian akan lebih mudah diterima daripada mempelajari hal yang tidak menarik perhatian. Dalam penyajian pelajaran pun, hal ini tidak bisa diabaikan, terutama anak kecil. Anak-anak tertarik pada hal-hal yang baru dan menyenangkan.
(3)  Faktor bakat
Pada dasarnya bakat itu mirip dengan intelegensi. Itulah sebabnya seorang anak yang memiliki intelegensi sangat cerdas (superior) atau cerdas luar biasa (very superior) disebut juga sebagai talented child, yakni anak berbakat.
(4)  Faktor motivasi
Motivasi adalah keadaan internal organisme yang mendorongnya untuk berbuat sesuatu. Karena belajar merupakan suatu proses yang timbul dari dalam, faktor motivasi memegang peranan pula. Kekurangan atau ketiadaan motivasi, baik yang bersifat internal maupun yang bersifat eksternal, akan menyebabkan kurang bersemangatnya anak dalam melakukan proses pembelajaran materi-materi pelajaran, baik di sekolah maupun dirumah.
(5)  Faktor kematangan
Kematangan adalah tingkat perkembangan pada individu atau organ-organnya sehingga sudah berfungsi sebagaimana mestinya. Dalam proses belajar, kematangan atau kesiapan ini sangat menentukan. Oleh karena itu, setiap usaha belajar akan lebih berhasil bila dilakukan bersamaan dengan tingkat kematangan individu. Kematangan ini erat sekali hubungannya dengan masalah minat dan kebutuhan anak.
(6)  Faktor kepribadian
Faktor kepribadian seseorang turut memegang peranan dalam belajar. Orang tua terkadang melupakan faktor ini, yaitu bahwa anak adalah makhluk kecil yang memiliki kepribadian sendiri. Jadi, faktor kepribadian anak mempengaruhi keadaan anak. Fase perkembangan seoranag anak tidak selalu sama. Dalam proses pembentukan kepribadian ini, ada beberapa fase yang harus dilalui. Seorang anak yang belum mencapai fase tertentu akan mengalami kesulitan jika ia dipaksa melakukan hal-hal yang terjadi pada fase berikutnya. Anak yang memasuki fase sekolah sudah mulai tertarik pada hal-hal yang baru dan dapat melepaskan diri dari orang tua dalam waktu yang terbatas tanpa menyebabkan ketegangan bagi si anak.[10]
2.     Faktor eksogen atau disebut juga faktor eksternal, yakni semua faktor eksternal, yakni semua faktor yang berada diluar diri individu, misalnya orang tua dan guru, atau kondisi lingkungan disekitar individu. Faktor ini dibagi dalam tiga faktor.
a.      Faktor keluarga
Menurut pandangan sosiologis, keluarga adalah lembaga sosial terkecil dari masyarakat. Pengertian keluarga ini menunjukkan bahwa keluarga merupakan bagian dari masyarakat; bagian ini menentukan kesejahteraan keluarga. Dan, kesejahteraan masyarakat mempunyai pengaruh pada kesejahteraan keluarga. Analisis ini merupakan akibat logis dari pengertian keluarga sebagai sesuatu yang kecil, sebagai bagian dari sesuatu yang besar.
Faktor keluarga sebagai salah satu penentu yang berpengaruh dalam belajar, dapat dibagi lagi menjadi tiga aspek, yakni: (1) kondisi ekonomi keluarga, (2) hubungan emosional orang tua dan anak, serta (3) cara-cara orang tua mendidik anak.
(1)  Kondisi Ekonomi keluarga
Faktor ekonomi sangat besar pengaruhnya terhadap kelangsungan kehidupan keluarga. Keharmonisan hubungan antara orang tua dan anak kadang-kadang tidak terlepas dari faktor ekonomi ini. Begitu pula faktor keberhasilan seorang anak.[11]
(2)  Hubungan emosional orang tua dan anak
Hubungan emosional antara orang tua dan anak juga berpengaruh dalam keberhasilan belajar anak. Dalam suasana rumah yang selalu ribut dengan pertengkaran akan mengakibatkan terganggunya ketenangan dan konsentrasi anak, sehingga anak tidak bisa belajar dengan baik. Hubungan orang tua dan anak yang ditandai oleh sikap acuh tak acuh dapat pula menimbulkan reksi frustasi pada anak. Orang tua yang terlalu keras pada anak dapat menyebabkan “jauh”-Nya hubungan mereka yang pada gilirannya menghambat proses belajar. Sebaliknya, hubungan anak anak dan orang tua yang terlalu dekat, misalnya, ke mana pun orang tua pergi, anak selalu lekat berada disamping, kadang pula mengakibatkan anak menjadi selalu “bergantung”.
(3)  Cara mendidik anak
Biasanya, setiap keluarga mempunyai spesifikasi dalam mendidik anaknya secara diktator militer, ada yang demokratis, pendapat anak diterima oleh orang tua, tetapi ada juga keluarga yang acuh tak acuh dengan pendapat setiap anggota keluarga. Ketiga cara mendidik ini, langsung atau tidak langsung, dapat berpengaruh pada proses belajar anak.
b.     Faktor Sekolah
Faktor lingkungan sosial sekolah seperti para guru, pegawai administrasi, dan teman-teman sekolah, dapat memengaruhi semangat belajar seorang anak. Para guru yang selalu menunjukkan sikap dan perilaku yang simpatik serta memperlihatkan suri teladan yang baik dan rajin, khususnya dalam hal belajar-misalnya rajin membaca dan rajin berdiskusi-dapat menjadi daya dorong yang positif bagi kegiatan belajar anak. Bimbingan yang baik dan sistematis dari guru terhadap pelajar yang mendapat kesulitan-kesulitan dalam belajar, bisa membantu kesuksesan anak dalam belajar.
c.      Faktor Lingkungan Lain
Anak yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang baik, memiliki intelegensi yang baik, bersekolah di suatu sekolah yang keadaan guru-gurunya serta alat-alat pelajarannya baik, belum tentu pula menjamin anak belajar dengan baik. Masih ada faktor lain yang dapat mempengaruhi hasil belajarnya. Misalnya, karena jarak antara rumah dan sekolah itu terlalu jauh, sehingga memerlukan kendaraan untuk keperlukan perjalanan yang relatif cukup lama, dan ini dapat melelahkan anak yang bisa berakibat pada proses dan hasil belajar anak.[12]




   III.          PENUTUPAN
Secara singkat dan secara umum, belajar dapat diartikan sebagai “perubahan perilaku yang relatif tetap sebagai hasil adanya pengalaman”. Disini tidak termasuk perubahan perilaku yang diakibatkan oleh kerusakan atau cacat fisik, penyakit, obat-obatan, atau perubahan karena proses pematangan.
Jenis-jenis belajar, dibagi 2 yaitu : berdasarkan tujuan dan hasil yang diperoleh; dan berdasarkan cara/reaksi yang ditempuh dalam belajar.
Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar dibagi menjadi :
1.     Faktor Endogen
a.      Faktor Fisik
b.     Faktor Psikis
1)     Faktor intelegensi atau kemampuan
2)     Faktor perhatian dan minat
3)     Faktor bakat
4)     Faktor motivasi
5)     Faktor kematangan
6)     Faktor kepribadian
2.     Faktor Eksogen
a.      Faktor keluarga
1)     Kondisi ekonomi keluarga
2)     Hubungan emosional orang tua dan anak
3)     Cara mendidik anak
b.     Faktor sekolah
c.      Faktor Lingkungan Lain
  IV.          DAFTAR PUSTAKA
Danim, Sudarwan dan Khairil. 2010. PSIKOLOGI PENDIDIKAN (Dalam Perspektif Baru). Bandung : Alfabeta
Purwanto, Ngalim . 1999. Psikologi Pendidikan. Bandung : Remaja Rosdakarya
Sobur, Alex . 2009. PSIKOLOGI UMUM. Bandung : Pustaka Setia
Soemanto, Wasty . 1988. Psikologi Pendidikan. Jakarta : Rineka Cipta
Suryabrata, Sumadi. 1989. Psikologi Pendidikan. Jakarta : Rajawali


[1] Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan, (Jakarta : Rineka Cipta, 1988) hlm.104
[2] Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 1999), hlm.84)
[3] Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, (Jakarta : Rajawali, 1989), hlm.247
[4] Alex Sobur, PSIKOLOGI UMUM, (Bandung : Pustaka Setia, 2009), hlm.217)
[5] Ibid, hlm.218
[6] Ibid, hlm.221-222
[7] Wasty Soemanto.....Opcit, hlm. 105-113
[8] Alex Sobur,....Opcit, hlm.240-243
[9] Ibid, hlm. 244-245
[10] Ibid, hlm.246-247
[11] Ibid, hlm.248-249
[12] Ibid, hlm.250-251
       I.          PENDAHULUAN
Banyak orang yang beranggapan, bahwa yang dimaksud dengan belajar adalah mencari ilmu atau menuntut ilmu. Ada lagi yang secara khusus mengartikan belajar adalah menyerap pengetahuan. Memang kalau kita bertanya kepada seseorang tentang apakah belajar itu, akan memperoleh jawaban yang bermacam-macam. Perbedaan pendapat orang tentang arti belajar itu disebabkan karena adanya kenyataan, bahwa perbuatan belajar itu sendiri bermacam-macam. Banyak  jenis kegiatan yang oleh kebanyakan orang dapat disepakati sebagai perbuatan belajar misalnya menirukan ucapan kalimat, mengumpulkan perbendaharaan kata, mengumpulkan fakta-fakta, menghafalkan lagu, menghitung dan mengerjakan soal-soal matematika, dan sebagainya. Tidak semua kegiatan dapat tergolong sebagai kegiatan belajar misalnya : melamun, marah, menjiplak, dan menikmati hiburan.
Berikut ini akan dijelaskan tentang belajar sekaligus faktor-faktor yang mempengaruhinya.
     II.          PEMBAHASAN
1)     Pengertian Belajar
Terdapat banyak definisi belajar. Berikut ini dikemukakan beberapa definisi yang menurut para ahli.
a.      Menurut James O. Wittaker, belajar dapat didefinisikan sebagai proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman. “Learning may be defined as the process by which behavior originates or is altered through training or experience.” (Wittaker, 1970:15). Dengan demikian, perubahan-perubahan tingkah laku akibat pertumbuhan fisik atau kematangan, kelelahan, penyakit, atau pengaruh obat-obatan adalah tidak termasuk sebagai belajar.
b.     Definisi yang tidak jauh berbeda dengan definisi diatas, dikemukakan oleh Cronbach dalam bukunya yang berjudul “Educational Psychology.” “Learning is shown by change in behavior as a result of expe-rience.” (Cronbach,1954:p.47). Dengan demikian, belajar yang efektif adalah melalui pengalaman. Dalam proses belajar, seseorang berinteraksi langsung dengan objek belajar dengan menggunakan semua alat indranya.[1]
c.      Hilgard dan Bower, dalam bukunya Theories of Learning, mengemukakan bahwa “Belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi itu”.
d.     Gagne, dalam bukunya The Conditions of Learning, menyatakan bahwa “Belajar terjadi apabila suatu situasi stimulus bersama dengan isi ingatan mempengaruhi siswa sedemikian rupa sehingga perbuatannya berubah dari waktu sebelum ia mengalami situasi itu ke waktu sesudah ia mengalami situasi tadi”.
e.      Morgan, dalam bukunya Introduction to Psychology, menyatakan bahwa “belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman”.
f.      Witherington, dalam bukunya Educational Psychology, menyatakan bahwa “Belajar adalah suatu perubahan di dalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru daripada reaksi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepandaian, atau suatu pengertiian”.[2]
g.     Good dan Brophy dalam bukunya Educational Psychology a Approach mengemukakan arti belajar yaitu Learning is the development of new assosiations as a result of experiience. Selanjutnya ia menjelaskan bahwa belajar merupakan suatu proses yang tidak dapat dilihat dengan nyata, proses itu terjadi didalam diri seseorang yang sedang mengalami belajar.[3]
Belajar menurut anggapan sementara orang, adalah proses yang terjadi dalam otak manusia. Saraf dan sel-sel otak yang bekerja mengumpulkan semua yang dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, dan lain-lain, lantas disusun oleh otak sebagai hasil belajar. Itulah sebabnya, orang tidak bisa belajar jika fungsi otaknya terganggu.[4]
Secara singkat dan secara umum, belajar dapat diartikan sebagai “perubahan perilaku yang relatif tetap sebagai hasil adanya pengalaman”. Disini tidak termasuk perubahan perilaku yang diakibatkan oleh kerusakan atau cacat fisik, penyakit, obat-obatan, atau perubahan karena proses pematangan.[5]
Dari definisi-definisi yang dikemukakan diatas, dapat disimpulkan adanya beberapa elemen penting yang mencirikan pengertian tentang belajar, yaitu :
1.     Situasi belajar mesti bertujuan, dan tujuan-tujuan tersebut diterima, baik oleh individu maupun masyarakat.
2.     Belajar adalah suatu perubahan dalam tingkah laku, dimana perubahan itu dapat mengalahkan kepada tingkah laku yang lebih baik, tetapi jiga ada kemungkinan yang mengarah kepada tingkah laku yang lebih buruk.
3.     Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan atau pengalaman.
4.     Untuk dapat disebut belajar, maka perubahan itu relatif mantap, harus merupakan akhir dari suatu periode waktu yang cukup panjang.
5.     Tingkah laku yang mengalami perubahan karena belajar menyangkut berbagai aspek kepribadian, baik fisik maupun psikis.[6]
2)     Beberapa Aktifitas yang Termasuk Belajar
Telah dikemukakan diatas, bahwa belajar tergantung pada kebutuhan dan motivasii. Sebelum dikemukakan jenis aktivitas belajar, baiknya dikemukakan dulu tentang set belajar.
a.      Gambaran tentang set belajar
Suatu set adalah arah terhadap pekerjaan didalam suatu set terdapat berbagai alternatif objek atau materi. Manfaat dari set belajar adalah membuat sipelajar mempunyai respon terhadap kecepatan berbagai tindakan untuk mencapai tujuan.
b.     Beberapa aktivitas dalam belajar
Mendengar, memandang, 3M (meraba, mencium, mengecap / merasakan), menulis atau mencatat, membaca, mengingat, berfikir.[7]
3)     Jenis-jenis belajar
a.      Berdasarkan tujuan dan hasil yang diperoleh  dari kegiatan belajar
Belajar Abstrak, Belajar Ketrampilan, Belajar Sosial, Belajar Pemecahan Masalah, Belajar Rasional, Belajar Kebiasaan, Belajar Apresiasi, dan belajar pengetahuan.
b.     Berdasarkan cara atau proses yang ditempuh dalam belajar
Belajar berdasarkan pengamatan, Belajar Berdasarkan Gerak, Belajar Berdasarkan Menghafal, Belajar Berdasarkan Pemecahan Masalah, Belajar Berdasarkan Emosi.[8]
4)     Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hal Belajarnya
Secara garis besar, faktor-faktor yang mempengaruhi belajarr anak atau individu dapat dibagi dalm dua bagian :
1.     Faktor Endogen
Faktor Endogen atau disebut juga faktor internal, yakni semua faktor yang berada dalam diri individu. Meliputi dua faktor, yaitu faktor fisik dan faktor psikis.
a.      Faktor Fisik
Faktor fisik ini bisa kita kelompokkan lagi menjadi beberapa kelompok, antara lain faktor kesehatan. Umpamanya anak yang kurang sehat atau kurang gizi, daya tangkap dan kemampuan belajarnya akan kurang dibandingkan dengan anak yang sehat.
Selain faktor kesehatan, ada faktor lain yang penting, yaitu cacat-cacat yang dibawa sejak anak berada dalam kandungan.keadaan cacat ini juga bisa menghambat keberhasilan seseorang.
b.     Faktor Psikis
Banyak faktor yang termasuk aspek psikis yang bisa mempengaruhi kuantitas dan kualitas perolehan pembelajaran. Diantara begitu banyak faktor psikis, yang paling banyak atau paling sering disoroti pada saat ini adalah faktor-faktor berikut.
(1)  Faktor intelegensi atau kemampuan
Pada dasarnya, manusia itu berbeda satu sama lain. Salah satu perbedaan itu adalah dalam hal kemampuan atau intelegensi. Kenyataan menunjukkan, ada orang yang dikaruniai kemampuan tinggi, sehingga mudah mempelajari sesuatu. Dan, sebaliknya, ada orang yang kemampuannya kurang, sehingga mengalami kesulitan untuk mempelajari sesuatu disebabkan, antara lain, oleh perbedaan pada taraf kemampuannya. Kemampuan ini penting untuk mempelajari sesuatu.[9]
(2)  Faktor perhatian dan minat
Bagi seorang anak, mempelajari suatu hal yang menarik perhatian akan lebih mudah diterima daripada mempelajari hal yang tidak menarik perhatian. Dalam penyajian pelajaran pun, hal ini tidak bisa diabaikan, terutama anak kecil. Anak-anak tertarik pada hal-hal yang baru dan menyenangkan.
(3)  Faktor bakat
Pada dasarnya bakat itu mirip dengan intelegensi. Itulah sebabnya seorang anak yang memiliki intelegensi sangat cerdas (superior) atau cerdas luar biasa (very superior) disebut juga sebagai talented child, yakni anak berbakat.
(4)  Faktor motivasi
Motivasi adalah keadaan internal organisme yang mendorongnya untuk berbuat sesuatu. Karena belajar merupakan suatu proses yang timbul dari dalam, faktor motivasi memegang peranan pula. Kekurangan atau ketiadaan motivasi, baik yang bersifat internal maupun yang bersifat eksternal, akan menyebabkan kurang bersemangatnya anak dalam melakukan proses pembelajaran materi-materi pelajaran, baik di sekolah maupun dirumah.
(5)  Faktor kematangan
Kematangan adalah tingkat perkembangan pada individu atau organ-organnya sehingga sudah berfungsi sebagaimana mestinya. Dalam proses belajar, kematangan atau kesiapan ini sangat menentukan. Oleh karena itu, setiap usaha belajar akan lebih berhasil bila dilakukan bersamaan dengan tingkat kematangan individu. Kematangan ini erat sekali hubungannya dengan masalah minat dan kebutuhan anak.
(6)  Faktor kepribadian
Faktor kepribadian seseorang turut memegang peranan dalam belajar. Orang tua terkadang melupakan faktor ini, yaitu bahwa anak adalah makhluk kecil yang memiliki kepribadian sendiri. Jadi, faktor kepribadian anak mempengaruhi keadaan anak. Fase perkembangan seoranag anak tidak selalu sama. Dalam proses pembentukan kepribadian ini, ada beberapa fase yang harus dilalui. Seorang anak yang belum mencapai fase tertentu akan mengalami kesulitan jika ia dipaksa melakukan hal-hal yang terjadi pada fase berikutnya. Anak yang memasuki fase sekolah sudah mulai tertarik pada hal-hal yang baru dan dapat melepaskan diri dari orang tua dalam waktu yang terbatas tanpa menyebabkan ketegangan bagi si anak.[10]
2.     Faktor eksogen atau disebut juga faktor eksternal, yakni semua faktor eksternal, yakni semua faktor yang berada diluar diri individu, misalnya orang tua dan guru, atau kondisi lingkungan disekitar individu. Faktor ini dibagi dalam tiga faktor.
a.      Faktor keluarga
Menurut pandangan sosiologis, keluarga adalah lembaga sosial terkecil dari masyarakat. Pengertian keluarga ini menunjukkan bahwa keluarga merupakan bagian dari masyarakat; bagian ini menentukan kesejahteraan keluarga. Dan, kesejahteraan masyarakat mempunyai pengaruh pada kesejahteraan keluarga. Analisis ini merupakan akibat logis dari pengertian keluarga sebagai sesuatu yang kecil, sebagai bagian dari sesuatu yang besar.
Faktor keluarga sebagai salah satu penentu yang berpengaruh dalam belajar, dapat dibagi lagi menjadi tiga aspek, yakni: (1) kondisi ekonomi keluarga, (2) hubungan emosional orang tua dan anak, serta (3) cara-cara orang tua mendidik anak.
(1)  Kondisi Ekonomi keluarga
Faktor ekonomi sangat besar pengaruhnya terhadap kelangsungan kehidupan keluarga. Keharmonisan hubungan antara orang tua dan anak kadang-kadang tidak terlepas dari faktor ekonomi ini. Begitu pula faktor keberhasilan seorang anak.[11]
(2)  Hubungan emosional orang tua dan anak
Hubungan emosional antara orang tua dan anak juga berpengaruh dalam keberhasilan belajar anak. Dalam suasana rumah yang selalu ribut dengan pertengkaran akan mengakibatkan terganggunya ketenangan dan konsentrasi anak, sehingga anak tidak bisa belajar dengan baik. Hubungan orang tua dan anak yang ditandai oleh sikap acuh tak acuh dapat pula menimbulkan reksi frustasi pada anak. Orang tua yang terlalu keras pada anak dapat menyebabkan “jauh”-Nya hubungan mereka yang pada gilirannya menghambat proses belajar. Sebaliknya, hubungan anak anak dan orang tua yang terlalu dekat, misalnya, ke mana pun orang tua pergi, anak selalu lekat berada disamping, kadang pula mengakibatkan anak menjadi selalu “bergantung”.
(3)  Cara mendidik anak
Biasanya, setiap keluarga mempunyai spesifikasi dalam mendidik anaknya secara diktator militer, ada yang demokratis, pendapat anak diterima oleh orang tua, tetapi ada juga keluarga yang acuh tak acuh dengan pendapat setiap anggota keluarga. Ketiga cara mendidik ini, langsung atau tidak langsung, dapat berpengaruh pada proses belajar anak.
b.     Faktor Sekolah
Faktor lingkungan sosial sekolah seperti para guru, pegawai administrasi, dan teman-teman sekolah, dapat memengaruhi semangat belajar seorang anak. Para guru yang selalu menunjukkan sikap dan perilaku yang simpatik serta memperlihatkan suri teladan yang baik dan rajin, khususnya dalam hal belajar-misalnya rajin membaca dan rajin berdiskusi-dapat menjadi daya dorong yang positif bagi kegiatan belajar anak. Bimbingan yang baik dan sistematis dari guru terhadap pelajar yang mendapat kesulitan-kesulitan dalam belajar, bisa membantu kesuksesan anak dalam belajar.
c.      Faktor Lingkungan Lain
Anak yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang baik, memiliki intelegensi yang baik, bersekolah di suatu sekolah yang keadaan guru-gurunya serta alat-alat pelajarannya baik, belum tentu pula menjamin anak belajar dengan baik. Masih ada faktor lain yang dapat mempengaruhi hasil belajarnya. Misalnya, karena jarak antara rumah dan sekolah itu terlalu jauh, sehingga memerlukan kendaraan untuk keperlukan perjalanan yang relatif cukup lama, dan ini dapat melelahkan anak yang bisa berakibat pada proses dan hasil belajar anak.[12]




   III.          PENUTUPAN
Secara singkat dan secara umum, belajar dapat diartikan sebagai “perubahan perilaku yang relatif tetap sebagai hasil adanya pengalaman”. Disini tidak termasuk perubahan perilaku yang diakibatkan oleh kerusakan atau cacat fisik, penyakit, obat-obatan, atau perubahan karena proses pematangan.
Jenis-jenis belajar, dibagi 2 yaitu : berdasarkan tujuan dan hasil yang diperoleh; dan berdasarkan cara/reaksi yang ditempuh dalam belajar.
Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar dibagi menjadi :
1.     Faktor Endogen
a.      Faktor Fisik
b.     Faktor Psikis
1)     Faktor intelegensi atau kemampuan
2)     Faktor perhatian dan minat
3)     Faktor bakat
4)     Faktor motivasi
5)     Faktor kematangan
6)     Faktor kepribadian
2.     Faktor Eksogen
a.      Faktor keluarga
1)     Kondisi ekonomi keluarga
2)     Hubungan emosional orang tua dan anak
3)     Cara mendidik anak
b.     Faktor sekolah
c.      Faktor Lingkungan Lain
  IV.          DAFTAR PUSTAKA
Danim, Sudarwan dan Khairil. 2010. PSIKOLOGI PENDIDIKAN (Dalam Perspektif Baru). Bandung : Alfabeta
Purwanto, Ngalim . 1999. Psikologi Pendidikan. Bandung : Remaja Rosdakarya
Sobur, Alex . 2009. PSIKOLOGI UMUM. Bandung : Pustaka Setia
Soemanto, Wasty . 1988. Psikologi Pendidikan. Jakarta : Rineka Cipta
Suryabrata, Sumadi. 1989. Psikologi Pendidikan. Jakarta : Rajawali


[1] Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan, (Jakarta : Rineka Cipta, 1988) hlm.104
[2] Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 1999), hlm.84)
[3] Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, (Jakarta : Rajawali, 1989), hlm.247
[4] Alex Sobur, PSIKOLOGI UMUM, (Bandung : Pustaka Setia, 2009), hlm.217)
[5] Ibid, hlm.218
[6] Ibid, hlm.221-222
[7] Wasty Soemanto.....Opcit, hlm. 105-113
[8] Alex Sobur,....Opcit, hlm.240-243
[9] Ibid, hlm. 244-245
[10] Ibid, hlm.246-247
[11] Ibid, hlm.248-249
[12] Ibid, hlm.250-251

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar